KEARA (Judul Sementara)
Erste Datei
Setiap orang punya cara tersendiri dalam mengisi weekend. But for me, weekend is just impossible to happen in my life.Atau gini deh — orang kalau weekend itu biasanya hari di mana mereka berkumpul dengan keluarga, atau meluangkan waktu untuk ketemu sama orang yang mereka sayang. Misalnya, anak yang biasanya dititipkan di tempat penitipan; saat weekend, orang tua mereka bisa meluangkan waktu untuk menemani anak bermain, atau sekadar mendengarkan mereka bercerita, membantu mereka mengerjakan PR mungkin.
Setelah lima atau enam hari kerja, mereka akhirnya bisa bertemu di pagi hari atau malam sebelum tidur — kalau anaknya masih bangun. Kalau udah tidur? Ya gak ketemu.
Atau yang masih single bisa memanfaatkan waktu untuk istirahat, atau sekadar hangout bareng teman buat menghilangkan penat dan menjaga kewarasan, supaya bisa lanjut kerja di hari Senin. Ya, setiap orang beda-beda dalam mengisi weekend mereka.
Harusnya Sabtu ini hari liburku. Dua hari lalu aku baru balik ke Jakarta setelah sebulan di kota orang untuk kerja — menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Akhirnya bisa pulang itu rasanya menyenangkan. Tapi tidak setelah telepon yang kuterima tadi, setelah menyelesaikan sarapan pagiku (meskipun udah jam sebelas, ya masih bisa dibilang sarapan kan? Orang juga bangunnya jam segitu, hehe).
Saat orang-orang lagi spend their weekend, aku malah on the way ke tempat kerja karena tadi pagi ada panggilan telepon dari Mbak Nadya — ya, Mbak Nadya, atasanku di kantor. Aku kerja di salah satu Non-Government Organization (NGO) yang fokusnya di bidang sosial, pendidikan, perlindungan anak dan perempuan, serta pemberdayaan.
Aku di sini sebagai praktikan yang menangani problem di lapangan — dari bentuk mikro sampai makro. Kadang urusannya sama anak-anak, kadang juga sama bapak atau ibu pembuat kebijakan untuk memperjuangkan hak mereka.
Mulia banget ya kerjaanku. Tapi kalau sohibku bilang, “Halah, sok suci lo. Padahal tiap hari ngeluh capek, pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain.”
Ya namanya manusia, ngeluh dikit gak apa-apa kan? Jadi inget kata-kata bagian prolognya Ruly dari novel kecintaan gue Antologi Rasa karya Ika Natassa, yang mengutip sahabatnya Keara:
“Dimana pekerjaan itu hanya pengisi antara weekend.”
Maunya sih begitu, tapi my workdays aren’t the same as other people in the office yang kerjanya from Sunday till Thursday. I’m not.
Setelah parkir mobil, aku ambil tas ransel yang isinya laptop, botol minum, novel, dan peralatan tempur kerja lainnya. Aku berjalan ke dalam kantor dan naik lift sendirian — ya, sendiri, karena ini hari libur. Kalau kalian lupa, aku ingatkan lagi: hari ini weekend. Tapi karena aku praktikan yang jatah liburnya gak menentu, waktuku gak bisa diprediksi, termasuk oleh diriku sendiri. Harus siap 24 jam, karena itu tuntutan kerja. Kita gak pernah tahu kapan klien atau kasus baru datang. Pokoknya kerjaanku kayak UGD — harus siap siaga kapan pun ditelepon.
Gila gak sih kalian dengar cerita tentang pekerjaanku? Karena aku lebih gila lagi.
Aku masuk ke ruang Mbak Nadya yang lagi baca dokumen, dan bisa kutebak — itu adalah kasus yang bakal aku tangani.
Tok tok.
“Masuk.”
“Pagi, Mbak Nad,” sapaku setelah diizinkan masuk.
Mbak Nadya beralih menatapku. “Eh, lo Ken, lama banget datengnya.”
“Otw dari Bekasi, Mbak. Kemarin abis nginep di rumah kakak,” jawabku sambil meringis.
“Nih, dokumennya. Pelajari dan analisis dulu. Abis itu ambil tiket lo di Niken, dan lo terbang nanti malam,” kata Mbak Nadya tanpa tedeng aling-aling — langsung to the point.
Tuh kan, baru juga pulang udah disuruh pergi lagi.
“Malam ini juga, Mbak?” tanyaku, kali aja salah dengar.
“Iyalah, malam ini juga. Urgent banget soalnya. Gapapa kan?”
Dengan senyum terpaksa aku jawab, “Gapapa, Mbak. Udah jadi tugas saya.”
Tugas my ass, tapi cuma bisa kukatakan dalam hati. Ya iyalah, mau dipecat apa kalau ngomong gitu ke atasan.
“Saya ke ruangan dulu deh kalau gitu, Mbak. Mbak Nadya langsung pulang?”
“Enggak, gue mau ke tempat Aryo. Tuh anak lagi di ruangannya, gue suruh selesain laporan kasus yang kemarin gak rampung-rampung. Heran gue sama dia,” jawabnya dengan nada kesal.
“Kasus anak yang selesai dua minggu lalu?” tanyaku lagi, dan dia mengangguk sebelum keluar ruangan.
Aku juga keluar ruangan setelahnya dan balik ke ruanganku sendiri untuk lihat kasus apa yang harus aku tangani kali ini. Sambil menganalisis beberapa kemungkinan yang akan muncul, aku keinget Mbak Nadya tadi bilang mau ke ruangan Aryo. Tumben banget dia ditegur. Biasanya sih rajin, meskipun gak rajin-rajin amat. Apa jangan-jangan ada masalah? Ntar deh kutanyain kalau balik lagi.
Sekarang, Kean, kamu harus fokus sama kasus satu ini. Kamu terbang nanti malam.
Meskipun tuntutan kerjaku mengharuskan siaga 24 jam dan siap terbang ke mana pun, aku cinta banget sama pekerjaanku sekarang. Meskipun sempat gak dibolehin sama mama karena khawatir anak gadisnya dapat masalah, tapi karena aku berhasil menyakinkan mama dengan baik, akhirnya dibolehin kerja di sini.
Aku tipe anak yang jarang pulang, karena jauh banget dari kampung halaman dan juga karena jam kerja yang gak tentu. Tapi aku sering nginep di rumah kakakku di Bekasi, melepas kangen sama ponakan-ponakan yang udah mulai gede. Kayak kemarin, aku nginep di sana setelah balik dari luar kota.
“Oke, Kean, lo sekarang harus konsentrasi. Pelajari nih kasus, fokus!” aku ngomong sendiri buat nyemangatin diri di hari weekend.
Selama dua jam berkutat dengan berkas-berkas, akhirnya aku berdiri dari kursi. “Akhirnya kelar juga, lumayan juga nih kasusnya.” Aku merenggangkan otot tubuh agar lebih rileks.
Meja kerjaku yang tadinya rapi sekarang sudah tertutupi oleh berkas-berkas dan sticky notes warna-warni untuk menandai hal penting atau urgent sebelum ketemu klien. Aku mulai membereskan dokumen ke dalam map.
Tok tok.
Belum sempat kujawab, seseorang sudah nyelonong masuk.
“Kebiasaan lo, belum juga gue bilang ‘masuk’, udah masuk aja,” omelku.
“Gak usah banyak omong deh, gue lagi suntuk banget nih,” jawab Aryo dengan muka kusut kayak jemuran kering.
Ya, dia Aryo — teman kuliah yang gak disangka jadi rekan kerja sekarang. Dulu waktu kuliah gak begitu akrab, tapi pas kerja malah jadi best friend.
“Kenapa dah lo? Kena omel Mbak Nadya, kan?”
“Iyalah, pake nanya lo,” jawabnya kesal.
Sedikit penasaran, aku nanya, “Tumben banget lo telat. Biasanya bisa kelar sebelum deadline. Kenapa lo? Sini cerita sama dedek,” candaku sambil masukin dokumen ke map.
Dia mulai frustasi, sampai jambak rambut sendiri. “Gue bertengkar sama Lila lagi nih. Dia minta putus. Makanya gue dari kemarin gak fokus ngerjain laporan.”
“Oh my God, again, Yo? Astaga, kenapa lagi dah lo sama dia? Perasaan baru kemarin baikan terus weekend bareng.”
“Dia minta gue ngelamar dia, Kean. Makanya gue stres banget sampe begini.”
Of course aku langsung ngakak sampai sakit perut. “Puas lo ketawain gue?” kesal Aryo.
“Ya elo sih! Udah disuruh ngelamar gak dilamar-lamar. Kasihan tuh anak orang digantung. Takut dikira gak mampu ya lo,” kataku sambil ngambilin minum buat si kunyuk satu ini.
(lanjutan percakapan Keana dan Aryo — bagian ini sudah bagus banget, aku hanya betulkan tanda baca dan ejaan kecil tanpa ubah makna)
Catatan
Assessment: tahap awal di mana kita menggali informasi tentang klien terkait kasus yang akan ditangani — bisa dengan tanya jawab, observasi perilaku, serta kegiatan sehari-hari klien.
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Jika ada nama atau tempat yang mirip, mohon maaf.
Thank you for reading this story! 🌻
Komentar
Posting Komentar